Sunday, 19 May 2019

Bapak #1

Standard
Bapak. Sudah tiga tahun lamanya aku tidak bercerita denganmu. Pertemuan terakhir itu kau hanya terus berpesan. Sampai aku tidak menyadari bahwa pesan-pesan itu adalah pesan terakhirmu. Aku tidak tahu. Apakah orang yang membaca tulisanku ini menilaiku terlalu berlebihan atau apapun itu. Tulisan ini kubuat karena aku rindu. Obat rindu adalah bertemu. Tapi apakah bisa kita bertemu? Allah sudah takdirkan kita untuk berada di alam yang berbeda. Aku tidak dapat menjangkau ruangmu pun sebaliknya. Semoga suatu saat nanti aku, ibu, dan bapak bisa bertemu kembali di tempat yang paling indah

FUNGSI BAHASA MENURUT HALLIDAY DALAM WACANA TAJUK RENCANA KOMPAS

Standard

FUNGSI BAHASA MENURUT HALLIDAY DALAM WACANA TAJUK RENCANA
KOMPAS






Disusun Oleh :
One Khusnawati Yuanda
16201241053



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kegiatan berkomunikasi seringkali kita lakukan setiap hari. Dalam kegiatan tersebut kita membutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pikiran dan gagasan kita terhadap orang lain. Saat kita ingin menyampaikan pesan kita pada orang lain, hal ini tidak hanya dapat kita sampaikan secara lisan tetapi dapat juga secara tertulis. Surat kabar merupakan salah satu media komunikasi untuk menyampaikan pesan secara tertulis dari penulis kepada pembaca.
Pada sebuah surat kabar terdapat sebuah tajuk rencana yang berisi pandangan redaksi terhadap peristiwa yang sedang menjadi pembicaraan pada saat surat kabar itu diterbitkan. Terdapat bebeberapa hal penting yang ada dalam wacana tajuk rencana seperti menggunakan bahasa normatif, berhati hati dalam menggunakan bahasa, tidak bersifat mengritik secara langsung, dan dalam tajuk rencana itu memiliki kepribadian pers.Adanya beberapa aspek penting tersebut berkaitan dengan fungsi bahasa. Maka dari itu, pada pembahasan nanti kita akan membahas mengenai fungsi bahasa dalam wacana tajuk rencana KOMPAS.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja fungsi bahasa menurut Halliday?
2.      Bagaimana penerapan fungsi bahasa menurut Halliday?
3.      Adakah fungsi bahasa menurut Halliday dalam wacana tajuk rencana KOMPAS?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui apa saja fungsi bahasa menurut Halliday
2.      Mengetahui bagaimana penerapan fungsi bahasa menurut Halliday.
3.      Mengetahui ada atau tidaknya fungsi bahasa menurut Halliday dalam wacana tajuk rencana KOMPAS.

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

Halliday (dalam Sumarlam, 2003: 1-3) mengemukakan tujuh fungsi bahasa yaitu fungsi instrumental, fungsi regulasi, fungsi representatif, fungsi interaksional, fungsi perorangan, fungsi heuristik, dan fungsi imajinatif. Berikut ini adalah penjabarannya.
1.      Fungsi instrumental
Fungsi instrumental merupakan penggunaan bahasa untuk mengungkapkan keinginan atau kebutuhan pemakainya. Fungsi ini digunakan sehingga menyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi.Kalimat-kalimat yang digunakan pada fungsi instrumental bersifat komunikatif. Hal tersebut untuk menghasilkan kondisi tertentu.
2.      Fungsi regulasi
Fungsi ini merupakan penggunaan bahasa agar dapat mempengaruhi sikap atau pikiran atau pendapat orang lain, seperti rujukan, rayuan, permohonan atau perintah. Fungsi regulasi ini bertindak untuk mengendalikan serta mengatur orang lain.
3.      Fungsi informatif
Halliday (dalam Sumarlam, 2003:2) menyebut fungsi ini dengan istilah fungsi pemerian atau representatif. Dalam fungsi ini bahasa dapat digunakan untuk memebrikan laporan yang nyata seperti yang dilihat atau dialami oleh seseorang. Fungsi informatif adalah fungsi bahasa yang digunakan untuk menginformasikan sesuatu dengan cara yaitu bisa dengan mendeskripsikan atau menjelaskan sesuatu.
4.      Fungsi interaksional
Fungsi ini untuk menjalin kontak dan menjaga hubungan sosial, seperti sapaan, basa-basi, simpati atau penghiburan. Dalam salah satu penerapannya yaitu saat berlangsungnya komunikasi yang memerlukan pengetahuan tentang tata krama pergaulan. Misalnya, penyapa menyapa dengan sapaan yang hormat, penutur juga harus mempertimbangkan siapa mitra tuturnya, adat-istiadat, serta budaya lokal yang berlaku (Halliday dalam Rani, 2003:2).
5.      Fungsi personal
Merupakan penggunaan bahasa untuk mengungkapkan pendapat, pikiran, sikap atau perasaan pemakainya, untuk mengekspresikan perasaan, emosi, pribadi, serta reaksi-reaksinya yang mendalam. Kepribadian dari seseorang dapat ditandai oleh penggunaan fungsi personal bahasanya dalam berkomunikasi. Pada fungsi personal ini kesadaran, perasaan, dan budaya turut sama-sama berinteraksi dengan cara yang beraneka ragam.
6.      Fungsi heuristik
Penggunaan bahasa untuk belajar atau memperoleh informasi seperti pertanyaan atau permintaan penjelasan atau sesuatu hal.
7.      Fungsi imajinatif
Fungsi imajinatif digunakan untuk memenuhi dan menyalurkan rasa estetis (indah), seperti nyanyian, digunakan untuk menulis cerpen, dongeng, novel dan sebagainya.  

BAB 3
PEMBAHASAN
Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah wacana tajuk rencana . Tajuk rencana yang diteliti diambil dari surat kabar Kompas hari Jumat, 8 Maret 2019 yang berjudul Jangan Bikin Kian Gaduh dan Pesan Paus dan Arah Hidup Manusia.
a.      Fungsi instrumental
(1)   Menyuruh untuk tidak berbuat gaduh.
Jangan bikin Kian Gaduh (pada  judul)
b.      Fungsi regulasi
1)      Adanya peraturan perundang-undangan
a)      “Pasal 207 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) menegaskan, barang siapa dengan sengaja di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan hukum yang ada di Indonesia diancam ...” (Kompas, 8 Maret 2019)
b)      “UU No 9/1998 mengatur pula, kemerdekaan menyatakan pendapat di depan umum harus memperhatikan hak asasi orang lain...” (Kompas, 8 Maret 2019)
c)      “... UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).” (Kompas, 8 Maret 2019)
2)      Mengajak untuk bisa menempatkan diri dengan tepat
Siapapun kita harus pandai menempatkan diri dengan tepat agar kondisi politik jelang pemilu tak kian gaduh.(Kompas, 8 Maret 2019)
3)      Mengajak untuk jangan sampai kehilangan kemampuan mengenali arah hidup kalau tidak ingin hidup tanpa arah.
“Jangan sampai orang kehilangan kemampuan mengenali arah sejati hidup.” (Kompas, 8 Maret 2019)
c.       Fungsi informatif
1)      Informasi mengenai aparat keamanan yang dianggap memainkan kepentingan politik pemilu dan dinilai lamban serta tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan benar.
“Jika aparat keamanan atau penegak hukum proaktif menegakkan hukum atau menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, mereka bisa dianggap memainkan kepentingan politik pemerintah terkait pemilu. Namun, jika aparat membiarkan dugaan pelanggaran hukum di masyarakat, mereka pun bisa dinilai lamban dan tidak menjalankan tanggung jawabnya secara baik.” (Kompas, 8 Maret 2019)
2)      Informasi mengenai peristiwa penangkapan aktivis HAM
“Kejadian terakhir yang menempatkan aparat dalam posisi tak mudah adalah penangkapan aktivis hak asasi manusia Robertus Robert. Pengajar Universitas Negeri Jakarta itu diduga menghina institusi TNI ...” (Kompas, 8  Maret 2019)
3)      Informasi yang disampaikan Paus kepada umat Katolik
Pesan Paus yang disampaikan dalam misa di Roma itu juga menyebutkan bahwa kesuksesan, kekuasaan, dan harta akan pergi ...” (Kompas, 8 Maret 2019)
4)      Informasi berupa isu ketimpangan pendapatan yang sudah menjadi kajian serius beberapa tahun terakhir.
Isu ketimpangan pendapatan juga menjadi kajian serius beberapa tahun terakhir. Ronald Inglehart dalam “Innequality and Modernization” (Foreign Affairs, Januari/Februari 2016) mengutip pandangan ekonomi Thomas Pikkety...” (Kompas, 8 Maret 2019)
d.      Fungsi interaksional
1)      Akan lebih terhormat ditulis umat Katolik daripada ditulis orang Katolik.
Masa puasa bagi umat Katolik, menurut ...(Kompas, 8 Maret 2019)
2)      Ungkapan empan papan dari pepatah Jawa.
Empan papan, begitulah pepeatah Jawa mengingatkan. Siapapaun kita ... (Kompas, Jumat 8 Maret 2019)
e.       Fungsi heuristik
1)      Kalimat di bawah ini menanyakan mengenai benar tidaknya kebijakan pertumbuhan selama ini yang dinilai sudah tepat dan tak menciptakan akumulasi kekayaan semakin parah. Kalimat tersebut menandakan penanya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai keadaan yang sebenarnya terjadi.
... benarkah kebijakan pertumbuhan selama ini tepat dan tak menciptakan akumulasi kekayaan semakin parah?
2)      Kalimat di bawah ini diajukan penanya karena penanya ingin lebih mengetahui politik  yang sedang dijalankan selama ini untuk mendukung retribusi kekayaan, akses, dan kekuasaan secaram merata.
Apakah politik yang dijalankan selama ini mendukung redistribusi kekayaan, akses, dan kekuasaan secara merata?
f.       Fungsi imajinatif
1)      Pada kata memanas memiliki arti bahwa kata tersebut sedang mewakili keadaan yang sedang gaduh dan penuh amarah yang tinggi. Bisa saja penulis menggunakan kata gaduh pada wacana tersebut tetapi penggunaan kata tersebut terlihat kurang indah.
“Jelang pencoblosan pemilu 2019 siatuasi politik di negeri ini kian memanas. Tak mudah bagi apat penegak hukum dan keamanan untuk menempatkan diri.” (Kompas, 8 Maret 2019)
2)      Pada debu di tengah embusan angin mengandung fungsi imajinatif karena hidup yang tanpa arah dibahasakan seperti debu yang sangat mudah diterbangakan oleh angin, berterbangan kesana kemari tanpa arah.
“... seperti “debu di tengah embusan angin.””(Kompas, 8 Maret 2019)
3)      Pada melambat sejenak mempunyai arti berjalan pelan-pelan.
“...terutama pemimpin perusahaan dan negara , “melambat sejenak”, memikirkan perusahaan dan negara ...(Kompas, 8 Maret 2019)

BAB 4
PENUTUP
Kesimpulan
Pada akhirnya, berdasarkan hasil penemuan fungsi bahasa pada tajuk rencana menurut Halliday disimpulkan bahwa pada tajuk rencana Kompas hari Jumat, 8 Maret 2019 yang berjudul “Jangan Bikin Kian Gaduh” dan “Pesan Paus dan Arah Hidup Manusia” sudah terdapat fungsi bahasa menurut Halliday. Akan tetapi, kemunculan fungsi heuristik pada tajuk rencana tersebut tidak ditemukan. Jadi, hanya terdapat enam fungsi bahasa yang muncul yaitu fungsi instrumental, fungsi regulasi, fungsi informatif, fungsi interaksional, fungsi heuristik, dan fungsi imajinatif.

Daftar Pustaka

Halliday., M.A.K. dan Ruqaiya Hasan. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks, Aspek-Aspek
Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Sumarlam. 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra

Makna Simbol Sembadra dan Kunti pada Cerpen Sri Sumarah

Standard

Makna Simbol Sembadra dan Kunti pada Cerpen Sri Sumarah

One Khusnawati Yuanda
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta


Pewayangan merupakan salah satu seni tradisional Jawa yang bahasannya dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Maka dari itu, untuk melihat bagaimana sebenarnya kebudayaan dan masyarakat Jawa bisa dilihat dari cerita dalam pewayangan.
Menurut Nurgiyantoro, terdapat beberapa macam sikap , penerimaan, dan perlakuan terhadap cerita wayang, yaitu (1) wayang disikapi sebagai budaya yang bernilai tinggi dan sakral, (2) wayang disikapi secara main-main dan didesakralkan (parodial), (3) nilai budaya wayang disikapi secara ekletik, dan (4) wayang disikapi secara apa adanya, dalam arti tidak disakralkan atau sebaliknya didesakralkan.
Dalam sebuah pewayangan, tidak hanya sekedar cerita-cerita yang hanya bisa kita nikmati sebagai hiburan. Cerita, tokoh, dan nilai-nilai wayang secara sadar dijadikan sumber dan model pendidikan atau penyampaian pesan. Cerita dalam pewayangan biasanya menceritakan tokoh orang baik dan orang yang jahat. Disitulah kita dapat belajar bagaimana kita harus meneladani sifat-sifat dari seorang tokoh yang mempunyai etika yang baik (orang baik) dan tokoh dengan perilaku etika yang buruk (orang yang jahat ).
Etika merupakan keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya (Suseno, 1988: 6). Etika jawa mengemukakan tuntutan-tuntutannya berdasarkan bahwa kedudukan dan kegiatan setiap manusia dalam dunia telah ditentukan oleh takdir dan manusia dengan segala kehendaknya tidak dapat mengubah apa yang sudah ditakdirkannya itu. Pada lain pihak, apabila manusia dengan kelakuannya mengganggu keselarasan dalam masyarakat dan alam, maka hal tersebut akan membawa ia pada bahaya bagi yang bertindak itu sendiri dan bagi seluruh masyarakat. Etika Jawa menuntut seseorang untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan keselarasan masyarakat; berdasarkan suara hati maupun tanggung jawab moral janganlah membangkang, karena secara tidak langsung ia juga akan memasukkan masyarakat ke dalam bahaya.
Dalam beretika, perempuan Jawa terkenal dengan sifatnya yang lemah lembut, penurut, apa adanya, setia, dan berbakti pada suami. Karakter perempuan Jawa juga suka mengalah dan menghindari adanya konflik.  Sifat tersebut sama seperti salah satu tokoh dalam cerpen Sri Sumarah yaitu tokoh perempuan Jawa yang bernama Sri Sumarah.
Beberapa cerpen atau novel terkadang membangun sifat tokoh dalam karya tersebut mirip dengan tokoh dalam pewayangan. Karya Umar Kayam pada cerpen Sri Sumarah, perwatakan Sri Sumarah ditransformasikan dari perwatakan tokoh wayang. Tokoh wayang yang mirip dengan Sri Sumarah dalam cerpen Sri Sumarah ini adalah Sembadra dan Kunti. Dalam pewayangan, Sembadra merupakan istri Arjuna. Sedangkan Kunti, Kunti merupakan ibu para Pandawa. Kemunculan simbol Sembadra dan Kunti dalam cerpen Sri Sumarah membuat saya tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai makna apa yang tersirat dalam dua simbol tersebut.
Umar Kayam terlihat menunjukkan pemahamannya tentang apa yang menjadi keyakinan masyarakat Jawa. Umar Kayam bermaksud melakukan interpretasi dan sekaligus konfirmasi terhadap kehidupan masyarakat Jawa. Ia mempunyai maksud untuk menujjukkan sikapnya bahwa ada perbenturan nilai-nilai wayang dengan nilai-nilai aktual-modern dalam kehidupan yang mencerminkan proses kebudayaan. Pada golonga tua nilai-nilai wayang masih menjadi kebenaran sebagai satu-satunya acuan hidup, tetapi tidak lagi terjadi pada golongan yang lebih muda kemudian.

Sri Sumarah
Tokoh utama dalam cerita ini adalah Sri Sumarah. Sri yang artinya “menyerah” atau yang “terserah”. Ia merupakan seorang perempuan Jawa yang tinggal dan diasuh oleh neneknya. Pada usia 18 tahun ia menikah dengan Sumarto atau Martokusumo, putra seorang pensiunan mantri candu di kota kabupaten N yang sudah tamat Sekolah Guru dan sekarang menjadi guru di kota kelahiran Sri.
Akan tetapi, setelah 12 tahun menikah, Pak Marto meninggal karena penyakit eltor.
 Tokoh lain yang terlibat yaitu Tun, Ginuk, dan Yos. Tun merupakan anak Sri Sumarah. Tun terpaksa menikah muda dengan Yos karena hamil di luar nikah. Mereka berdua sangat aktif dalam organisasi. Akan tetapi, ternyata oraganisasi yang mereka ikuti itu adalah organisasi yang berbau PKI. Yos adalah anggota CGMI dan Tun adalah anggota Gerwani. Suatu ketika Yos ditangkap dan dibunuh karena terlibat dalam organisasi CGMI. Pada saat itu Tun selamat tetapi ia harus masuk bui. Ginuk yang merupakan anak Tun dan Yos terpaksa harus tinggal bersama dengan neneknya yaitu Sri Sumarah. Sri Sumarah hidup berdua dengan Ginuk. Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sri Sumarah bekerja sebagai tukang pijat. Keputusannya untuk menjadi seorang tukang pijit berawal saat ia ke luar rumah untuk mencari wisik. Ia bermimpi disuruh memijit Mas Marto, suaminya yang sudah meninggal. Hal tersebut diartikannya sebagai wisik. Dari situlah ia bertekad menjadi tukang pijit. Awalnya ia hanya menjadi tukang pijit seorang anak tetangganya yang kakinya terkilir tetapi pada akhirnya ia menjadi tukang pijit yang terkenal sebagai pemijit yang ampuh.
Julukan Sri Sumarah sebagai pemijit yang ampuh membuat banyak pelanggan berdatangan. Ia juga sering dipanggil ke sebuah hotel untuk memijit langganannya. Pada suatu ketika, ada seorang anak muda dari Jakarta yang mengundangnya ke sebuah hotel. Anak muda itu minta dipijit sampai tertidur. Sri Sumarah pada saat itu tidak menyangka apabila anak muda itu akan melakukan tindakan yang tidak biasanya. Setelah Sri Sumarah selesai memijit, anak muda itu bangun dan menciumi Sri Sumarah. Sri tidak dapat menghindar dan menerima saja. Malam berikutnya ia diminta datang kembali untuk memijit anak muda itu. Kemudian, tiba-tiba saat ia memijit anak muda itu, anak muda itu bangun dan memeluknya. Sri merasakan apa yang ia rasakan dulu saat suaminya pertama kali menggaulinya dulu. Pada saat itu, Sri tidak berdaya dan berusaha menolak pelukan itu.

Simbol Sembadra dan Kunti
Karya sastra yan berjudul Sri Sumarah disebut sebagai cerita pendek yang panjang (long short-story). Cerpen ini dibuat untuk menggambarkan waktu pada masa sekitar tahun 40-an sampai dengan pasca pemberontakan G-30-S/PKI.
Bu, keadaan gawat. Di Jakarta terjadi perebutan kekuasaan.
Apa itu, nduk?
Perang. Jenderal-jenderal ambil alih kekuasaan. Kita, kaum kiri, akan ditangkali dan dibunuh. Kami akan menyingkir dulu. Ibu di sini saja bersama Ginuk. Ini sedikit uang dan perhiasan, pegang saja buat berlanja sehari-hari...
...
...datang Pak RT yang diikuti beberapa orang tentara.
“Bu, Yos dan Tun ke mana, Bu?”
“Enggak tahu. Pergi sudah beberapa hari.”
“Ibu tahu enggak, apa yang terjadi? Anak Sampeyan dan suaminya itu ikut berontak.”

Selama hidupnya, Sri Sumarah selalu saja banyak mendapat cobaan. Mulai dari ditinggal oleh suaminya, Tun hamil diluar nikah, Tun masuk bui karena keterlibatannya dalam PKI, dan pada saat Tun masuk Bui, Sri harus merawat dan membiayai kehidupannya beserta Ginuk.
Sri Sumarah, walaupun sudah tua dan mempunyai anak akan tetapi masih terlihat sebagai seorang perempuan yang cantik bertubuh sintal dan langsing. Ia mempunyai perilaku yang hormat dan berbakti pada suami. Ia pandai merawat diri , suka tembang  dan menembang tembang-tembang Jawa
... Badannya tetap segar, sintal, dan langsing karena Sri tidak pernah alpa meminum jamu-jamunya. Badannya, meskipun tidak mengenal Eau de Cologne 4711, selalu mengeluarkan kesegaran bau embsun desa, karena dia juga tak pernah alpa makan kencur dan kunyit mentah. Dan akan keampuhan gerayangan pijitnya serta kemerduan tembangnya, suaminya yang pendiam dan banyak menahan emosi yang tidak perlu itu, sekali-sekali tidak malu-malu mengeluarkan emosinya yang tidak perlu itu
           
Gambaran fisik dan perilaku seorang perempuan bernama Sri ini sangat mirip dengan tokoh pewayangan yaitu Sembadra. Sembadra yang merupakan Istri Arjuna juga memiliki fisik yang cantik, hitam manis, dan anggun. Ia juga sangat setia pada suami, tidak cemburu dan marah ketika sering ditinggal pergi dan kawin lagi oleh Arjuna. Sembadra juga selalu bersikap baik kepada para istri Arjuna. Ia juga sangat menyayangi anaknya, yaitu Abimanyu dan melakukan apapun demi anaknya.
Tokoh Sri Sumarah mempunyai perilaku yang amat mencintai anak dan membesarkan anak dan cucu dengan penuh tanggung jawab. Ia rela melakukan apapun demi anaknya. Terlihat ketika ia menyekolahkan Tun ke kota, tetap sayang walaupun Tun hamil di luar nikah dan menyelenggarakan pesta perkawinan dengan selayaknya sampai-sampai ia menggadaikan sawah dan karena tidak dapat menebusnya, ia rela kehilangan sawahnya tersebut.
“Jadi, kau sekarang hamil, nduk?”
“Dua Bulan.”
Dan pada waktu Tun mulai menangis lagi, Sri sambil terus mengelus kepala anaknya mengatakan, “Cup, nduk, cup. Ibu akan bereskan semuanya.”
Tiba-tiba dia merasa mampu mengangkat beban yang selama ini dirasanya menindih dadanya. Dia merasa beban itu akan dia bawa berjalan dan akan diletakannya baik-baik di satu tempat yang pantas dan apik.
...
Perkawinan Tun dilangsungkan dalam segala kesemarakan. Wayang kulit dengan dalang yang terbaik di kabupaten itu dipergelarkan semalam suntuk. Untuk jamuan makannya, Sri memesan pada Nyonya Lim, langganan Ibu Bupati, makanan kecil yang sangat terpilih yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam pesta-pesta kecamatan.
...
Sri, perempuan yang selalu dididik untuk jujur dan sumarah itu, mengatakan dengan sebenarnya bahwa dia memang tidak ada harapan lagi untuk bisa menyelesaikan utangnya, kecuali harus menyerahkan sawah yang digadaikan kepadanya.
“Jadi, sudah, Bu Guru Marto?”
“Ya, sudah, Pak.”
“Ikhlas? Sah?”
“Ikhlas. Sah.”

Selain digambarkan sebagai seorang Sembadra, Sri juga digambarkan seorang Kunti dalam tokoh pewayangan. Kunti dalam tokoh pewayangan adalah seorang ibu para Pandawa. Ia mempunyai perilaku yang suka berguru. Hal ini sama seperti perilaku Sri Sumarah pada neneknya. Ia berguru kepada neneknya tentang bagaimana menjadi perempuan Jawa tulen.
Begitulah Sri mendapatkan ilmunya yang baru. Ilmu kesempurnaan berumah tangga. Menurut embah Sri, ajaran itu semua bukanlah untuk apa-apa, kecuali untuk “memegang” laki-laki.
“Kalau kita turuti mereka, laki-laki akan lebih lagi menuruti kita, nduk...”
Dan Sri  Sumarah yang dengan tekun dan patuh mengikuti persiapan embahnya, pada hari perkawinannya telah menguawai semua perlengkapan itu. Sri Sumarah sudah mumpuni, kata orang Jawa ...
Selanjutnya, perilaku Sri yang mirip dengan Kunti adalah ketika Sri tidak hanya merawat anaknya tetapi juga cucunya, Ginuk. Ia merawat dengan ikhlas, penuh kasih sayang, dan tanggung jawab. Pada bagian ini perilaku itu mirip dengan Kunti pada saat ia merawat dua anak tirinya dengan tulus ikhlas, yaitu Nakula dan Sadewa. Dewi Kunti mengasuh dan membesarkan putra-putranya yang telah ditinggal mati oleh suaminya, Pandu.

Makna Simbol Sembadra dan Kunti
            Makna simbol Sembadra pada cerpen Sri Sumarah diartikan sebagai figur seorang istri Jawa yang berbakti kepada suami. Seorang istri yang menerima apa adanya berbagai cobaan hidup. Dalam cerpen tersebut, seperti yang dikatakan oleh nenek dari Sri Sumarah, cobaan hidup seorang perempuan Jawa itu ada dua, yang pertama ditinggal suami meninggal dan yang kedua suami menikah lagi. Akan tetapi, cobaan yang menimpa Sri Sumarah yaitu ditinggal suami karena meninggal. Cobaan yang kedua hampir saja terjadi ketika Pak Martokusumo dilamar oleh Pak Carik agar Pak Martokusuma mau menikah dengan anaknya. Pada saat itu Pak Martokusumo menolak, dan pernikahan tersebut tidak terjadi.
            Makna simbol Kunti pada cerpen Sri Sumarah terlihat pada saat Tun hamil diluar nikah, kemudian Sri berusaha untuk menjadi seorang ibu yang rela berkorban demi anaknya agar tidak menanggung malu dan membuat anaknya senang, seperti langsung menikahkan anaknya dan menggelar pesta yang cukup layak. Namun, karena pestanya tersebut mengeluarkan biaya yang tidak murah,ia menggadaikan sawah dan ia rela untuk melepas sawahnya kepada Pak Mohammad untuk mengganti utang-utangnya. Terdapat satu bagian lagi yang menggambarkan kemiripan tokoh Sri dengan Kunti yaitu saat Sri harus merawat cucunya yang bernama Ginuk karena pada saat itu Tun sedang berada di penjara.
            Pada cerpen Sri Sumarah ini dapat diambil kesimpulan bahwa cerpen ini mengisahkan tentang sifat tokoh dalam pewayangan yang mirip dengan perilaku orang Jawa yang dapat menjadi teladan. Hal tersebut yaitu seperti Dewi Kunti, kewajiban dan pengorbanan seorang nenek terhadap cucu maupun ibu terhadap anak dan cucu adalah sebuah pengorbanan yang mulia. Seperti Sembadra, yaitu ketika seorang Sri dipersiapkan oleh neneknya menjadi wanita dan istri yang sempurna.

Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Transformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi
Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kayam, Umar. -. Sri Sumarah. Jakarta: Pustaka Jaya.
Magnis-Suseno, Franz. 1988. Etika Jawa. Jakarta: PT Gramedia.

   

           

Wednesday, 8 May 2019

Sosok Rumanti dalam Novel Perempuan Jogja

Standard
Sosok Rumanti dalam Perempuan Jogja

Perempuan Jogja ditulis oleh Achmad Munif, seorang penulis yang berasal dari Jawa Timur. Dalam cerpen tersebut terdapat satu tokoh yang digambarkan mirip dengan Achmad Munif. Tokoh tersebut adalah Ramadan. Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu berasal dari Jawa Timur. Selain beraktivitas di kampus, kesibukan lain yang dilakukan Ramadan adalah menjadi seorang wartawan pada sebuah media masa di Yogyakarta. Hal tersebut sama halnya dengan Achmad Munif yang pernah menjadi seorang wartawan di Yogyakarta.
Novel Perempuan Jogja yang ditulis Achmad Munif berlatar kehidupan sosial budaya di Yogyakarta. Keluarga RM Sudarsono yang masih merupakan kerabat dekat keraton terdiri dari RM Sudarsono, RA Niken, RM Danudirjo, dan RA Indri. Dalam novel tersebut, penggambaran karakter perempuan Jogja sangat mendominasi. Tokoh yang menjadi sorotan utama pembaca adalah tokoh Rumanti. Seorang perempuan Jogja yang sederhana dan penurut itu harus merelakan dirinya dimadu oleh RM Danudirja. Ia rela dimadu dan tidak memberontak walaupun sebenarnya hatinya sangat sakit. Ketidakmmapuannya untuk memberontak pada Danu juga mengingat bahwa dia hanyalah seorang perempuan dari keluarga yang miskin. Latar belakang tersebut menjadi faktor mengapa Rumanti tidak berani untuk menolak apabila Danu menikah lagi. Pernikahan yang terjadi dengan RM Danudirja tidak dilandasi dengan rasa cinta Danu kepada Rumanti. Danu menikah dengan Rumanti karena saat itu Danu sedang frustasi. Mantan pacar Danu yang amat dicintainya, yaitu Norma, pergi meninggalkan Danu dan menikah dengan orang lain. Akhirnya, RM Sudarsono dan RA Niken, orang tua Danu, menikahkan Danu dengan Rumanti. RM Sudarsono dan RA Niken memang merupakan kerabat keraton, dalam hal ini berarti mereka adalah seorang priyayi. Akan tetapi, keduanya tidak memandang Rumanti sebagai perempuan miskin yang tak layak menikah dengan anaknya yang seorang priyayi. Menurut mereka, miskin dan kaya tidak menjadi masalah. Harapan mereka, sosok Rumanti yang pengertian dan penyabar dapat menyembuhkan Danu pada masa-masa frustasi.
Rumanti merupakan tokoh yang paling disoroti untuk dijadikan sebagai bahan kritik sastra feminis. Walaupun Rumanti dikhianati oleh suami sendiri ia tetap bertahan dengan sifatnya yang penyabar, ikhlas, adem ayem. Ia juga tidak memberontak atau melawan ketika Danu memutuskan untuk menikah lagi. Hal tersebut dikutip pada bagian saat Indri, adik Danu sedang berbincang-bincang dengan Rumanti untuk mengutarakan ketidaksetujuan Indri apabila Danu menikah lagi. Pernyataan tersebut dijawab oleh Rumanti, “Bagi saya hidup ini adil kok, Dik. Adil, karena Mbak selalu teringat dari mana asal Mbak. Mas Danu telah mengangkat derajat, Mbak, memberikan kesenangan hidup, memberikan dua anak yang baik. Kalau toh, kemudian Mas-mu menikah lagi dengan Norma bagi saya hidup masih tetap adil.”
Akan tetapi, perempuan mana yang tidak sakit apabila suaminya menikah lagi. Rumanti juga sempat mengeluh hal tersebut kepada kedua orang tua Rumanti. Namun, orang tua Rumanti tetap menyarankan Rumanti untuk menjadi seorang istri yang setia.
“Rasanya sakit sekali, Pak.”
“Memang sakit. Bapak bias ikut merasakannya. Tapi kamu jangan minta cerai, Nduk.”
Bu Prawiro dating dengan membawa baki berisi tiga gelas teh. Dengan hati-hati gelas-gelas itu ditaruh di atas meja.
“Bapakmu benar Rum. Apa yang kamu cari dengan meminta cerai? Kamu harus tahu caranya membalas budi. Kamu harus ingat siapa kamu dan siapa Raden Mas Danudirjo. Kamu memang sudah menjadi istterinya, tapi kamu harus selalu ingat dari mana kamu berasal.”
Orang tua Rumanti sangat menghargai keluarga ningrat. Sehingga adanya kelas-kelas tertentu tersebut membuat mereka tidak dapat melawan. Mereka hanya bisa “sendika dawuh”, melakukan apa yang menjadi kehendak kalangan atas.
Perempuan Jogja tulen selalu mempunyai sifat-sifat seperti Rumanti. Kesetiaan yang digambarkan oleh Rumanti seperti memperlihatkan bahwa Perempuan Jogja itu tertindas. Akan tetapi bukan itu. Pada bagian akhir buku tersebut ditulis bahwa “Perempuan yang tetap tegar walau si suami tidak setia. Perempuan yang tetap menjaga martabatnya sebagai isteri meskipun sang suami lupa diri. Dialah perempuan yang memahami hak-haknya . Perkasa dan tidak cengeng. Dialah perempuan yang memiliki definisi tersendiri mengenai gender dan feminisme. Dialah perempuan Jogja,”

Monday, 6 May 2019

Quotes Part Dosen

Standard
Asal kamu "mau", transfer ilmu itu akan mudah. IQ yang tinggi bukan jadi jaminan
-Joko Santoso, M.Hum- 
(Dosen Pengantar Ilmu Bahasa, Fonologi, Morfologi)


The unexamined life isn't worth living
-Alif Lukmanul Hakim-
(Dosen Pancasila)


Belajar itu harus "Fokus dan Total"
-Dra. Hesti Mulyani, M.Hum.-
(Dosen Bahasa Sansekerta)


"Memahami orang lain itu butuh seumur hidup"
(Dwi Budiyanto, M.Hum)


"Tiga hal yang perlu kalian punya itu yang pertama disipli, jujur, dan bertanggung jawab."
(Prof. Suroso)

Thursday, 15 November 2018

Statistika - Semester 5

Standard
Statistika
Pertemuan 11
Senin, 15 November 2018

Empat uji analisis data
1. Uji korelasi product moment (uji korelasional)
2. T-tes/uji t (uji komparasional)
3. Anova  (uji komparasional)
4. Chi kuadrat (uji komparasional)


1. Hipotesis
Ho : tidak ada perbedaan kemampuan dalam bermain bulutangkis antara kelompok yang diberi metode A,B,C
Ha : ada perbedaan kemampuan bermain bulutangkis antara kelompok yang diberi metode A,B,C
2. Analisis data
3. Postulat/hukum
Jika nilai signifikansi / p > 0.05 maka Ho diterima dan Ha ditolak
Jika nilai signifikansi / p < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
4. Interpretasi
karena nilai sig 0,000 < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada perbedaan kemampuan bermain bulutangkis antara kelompok yang diberi metode A,B,C.

Uji analisis data yang digunakan:
Apabila menggunakan dua kelompok saja pakai T-tes
Apabila tiga atau lebih kelompok sampel menggunakan Anova

Anova satu jalur :
bebas(independent): tidak dipengaruhi oleh apapun -> metode
kemampuan -> berubah-ubah (dependent)


Tipe kejiwaan mempengaruhi kemampuan penguasaan Bahasa Inggris.
tipe kejiwaan -> independen
dipengaruhi tipe kejiwaan -> dependent

Catatan:
db/df : derajat bebas/degree of freedom
hal 448 - Buku Statistik --> tabel dipakai apabila kita menghitung manual
Praktik T-tes 18 November 2018



Friday, 2 November 2018